Senin, 07 Agustus 2017

Asal Usul Bukit La Baong
 (CERITA BUKIT LA BAONG)



            La Gawa  adalah seorang yang disegani di wilayahnya (Sumbawa), dia juga pemimpin bajak laut Bintang Tiga. Para Kolonial sangat benci dengannya, begitupula dengan mertua La Gawa sendiri (Rangga). La Gawa tidak pernah mematuhi perintah yang diberikan oleh mertuanya karena ia tahu bahwa mertuanya hanya mengingikan jabatan tinggi di kerajaan. Suatu hari La Gawa diusir oleh mertuanya karena ia tanpa sengaja telah memukuli istrinya sendiri. La Gawa pun menggembara tanpa seorng istri di sampingnya (Lala Bueng).  La Gawa bertekad akan berkorban demi rakyat serta wilayah tempat tinggal istrinya.
            La Gawa dating ke Port Roterdam di Makasar untuk menemui Tuan Holfner. La Gawa disambut dengan ramah oleh para colonial, ternyata Kolonial ingin berkerja sama dengan La Gawa untuk menaklukan Jepara. La Gawa menyetujuinya, tapi colonial harus memenuhi persyaratan yang diajukan oleh La Gawa. Persyaratan itu adalah La Gawa meminta agar colonial tidak mengganggu daerah Sumbawa tempat istrinya sekarang, perjanjian itu di sebut PERJANJIAN SATU PASAL. Colonial menyetujui, asalkan Raja Jepara bisa ditaklukan oleh La Gawa. La Gawa pun pergi ke Kerajaan Jepara. Di sana dia menyamar sebagai pedagang dari Makasar. Pertama La Gawa disambut dengan keramahan, tapi karena keegoisan sang raja, terjadilah pertumpuhan darah. Kejadian itu tidak diketahui oleh warga kerajaan di luar. Setelah itu, La Gawa pun kembali ke Makasar untuk menyampaikan kabar itu. Tuan Holfner merasa senang mendengarnya.
            Disamping itu, istrinya Lala Bueng menunggu kedataangan La Gawa tapi tidak kunjung datang juga. Melihat itu, Rangga ayahnya, sangat bersimpati melihat anaknya itu. Meskipun telah banyak pangeran yang mempersunting Lala Bueng, tapi ia tetap setia menunggu kedatangan suaminya. Suatu hari Lala Bueng dilamar oleh raja muda, semula Lala Bueng tidak mau tapi setelah dipikirkan dan mendengar kabar bahwa suaminya telah meninggal, ia pun menerima lamaran pangeran muda. Di hari pernikahannya, datanglah seorang panggeran Banjar. Pangeran itu bernama Andi pangeran. Andi pangeran semula kelihatan bingung dengan sekitar dan dia terpesona melihat pengantin yang bersanding dipelaminan. Melihat kebingungan pangeran itu, seorang pejabat istana mengajak bicara Andi pangeran. Andi Pangeran terkejut ketika mengetahui perempuan yang menikah itu adalah istri La Gawa. Andi pangeran pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada La Gawa. Pejabat istana itu pun kaget, semula ia tak percaya tapi setelah melihat kenyataan yang tengah terjadi di daerahnya sekarang, dia pun percaya. Andi pengeran pun bicara dengan jelas bahwa LA GAWA TIDAK MATI.
            Berpuluh-puluh tahun lamanya, La Gawa pun pulang ke daerah istrinya(Sumbawa). La Gawa ragu untuk pulang, dia takut istrinya tidak dapat menerimanya lagi atau istrinya sudah menikah. La Gawa pun memutar balik perahunya. Di tengah laut ia bertemu dengan Andi pangeran. Semula Andi pangeran tidak mau meceritakan sebenarnya tentang keadaan istri La Gawa sekarang, tapi akhirnya dia pun bercerita. La Gawa keliataan kecewa mendengar cerita itu. Tapi dengan beser hati La Gawa pulang ke Sumbawa. Tidak ada yang mengenalnya, semua terlihat asing, lalu ia pun mencari rumah paman La Kohe. La Gawa menceritakan semua yang terjadi dan memperlihatkan piagam yang diberikan colonial untuknya. Dia tidak punya niat untuk merebut istrinya kembali, tapi dia ingin istrinya tahu sendiri bahwa dia belum mati. La Gawa pun menyelinap di istana dan ia melihat seorang perempuan cantik yang sedang tertawa. Perempuan itu adalah istrinya. La Gawa pun bersiul dan menyelipkan rokok lontar berikat berbentuk capung. Lala Bueng kaget, dia panik. Para warga istana pun panik dan segera mencari La Gawa.
            Suatu hari Lala Bueng jatuh sakit. Penyakit yang dideritanya adalah gatal-gatal. Bercah berisi nanah memenuhi sekujur tubuhnya. Tabib tenama tidak mampu menyembuhkannya. Pada malam hari Lala bueng pun dibawa lari keluar istana di suatu tempat. Lala bueng melarang pengawal untuk member tahukan kepada semua orang dimana dia berada. Selain itu Lala Bueng pun berkata, suatu saat nanti orang akan mencariku. Sedangkan dilain pihak, Rangga ayahnya Lala Bueng gila. Dia menyesal telah menyia-nyiakan kata-kata menantunya.

TANJUNG MENANGIS

TANJUNG MENANGIS ( Cerita Rakyat Sumbawa )

Tanjung menangis merupakan nama tanjung yang berada di bagian timur  pulau Sumbawa. Pada zaman dahulu, putri dari Datu Samawa terjangkit penyakityang sangat aneh, tak ada seorang pun di seantero negeri Samawa yang dapat menyembuhkannya. Datu Samawa telah melakukan berbagai cara demi menyembuhkan putrinya. Dia telah berkunjung ke rekan-rekannya sesama pemimpin, yaitu kepada Datu Dompu dan Datu Bima untuk mencari tabib sakti yang dapat menyembuhkan putrinya, namun hasilnya tetap nihil.

Bertahun-tahun tuan putri mengidap penyakit aneh tersebut, namun belum ada orang ataupun tabib yang mampu menyembuhkannya. Suatu hari, Datu Samawa membuat sayembara bagi seluruh orang diseantero negeri. Barang siapa yang mampu menyembuhkan tuan putri maka baginya akan diberikan hadiah. Apabila dia perempuan maka akan dijadikan sebagai anak angkat. Namun, apabila laki-laki, maka akan dijadikan menantu dan dinikahkan dengan tuan putri.

Sayembara ini menyebar hingga ke pulau Sulawesi di seberang sana. Telah banyak tabib yang mencoba mengikuti saymebara ini namun belum seorang pun yang berhasil menyembuhkan tuan putri. Suatu hari, datanglah seorang kakek tua renta ke kediaman Datu Samawa. Dia berasal dari negeri Ujung Pandang dan memperkenalkan dirinya dengan nama Daeng Ujung Pandang. Dia telah mendengar kabar tentang penyakit aneh yang diderita tuan putrid dan ingin mencoba mengobati tuan putri bila Tuhan Yang Maha Kuasa mengijinkan.Dengan kuasa Allah Taala, melalui tangan serta pengetahuan yang dimiliki Daeng Ujung Pandang, tuan putri pun sembuh seperti sedia kala.

Sesuai dengan janjinya, tibalah waktunya bagi Datu Samawa untuk membayar janji kepada Daeng Ujung Pandang yang telah menyembuhkan putrinya. Seperti yang telah beliau janjikan, beliau harus menikahkan putri beliau dengan Daeng Ujung Pandang. Namun, karena melihat fisik Daeng Ujung Pandang yang sudah tua renta dan bungkuk pula, Datu Samawa merasa tidak rela untuk menikahkan putrinya dengan Daeng Ujung Pandang. Datu Samawa akhirnya merubah hadiah dari sayembara.

Daeng Ujung Pandang oleh Datu Samawa dipersilahkan untuk mengambil harta sebanyak-banyaknya, berapapun yang diinginkan olehnya, asalkan Daeng bersedia untuk tidak dinikahkan dengan tuan putri. Daeng Ujung Pandang merasa sangat terhina dengan sikap Datu. Beliau menolak untuk mengambil sepeser harta pun dari istana. Dengan hati teriris, ia pun pulang kembali ke Ujung Pandang menggunakan sampan kecil yang dilabuhkan di sebuah tanjung.

Putri Datu Samawa merasa iba melihat kekecewaan di mata Daeng Ujung Pandang, ia pun menyusul Daeng Ujung Pandang ke tanjung tersebut. Saat putri Datu Samawa tiba di pelabuhan, saat itu pula, Daeng Ujung Pandang baru saja menaiki sampannya. Atas kekuasaan Allah, Daeng Ujung Pandang yang tua renta tersebut berubah menjadi pemuda yang tampan tiada taranya ketika telah menginjakkan kakinya di atas sampan.

Melihat hal tersebut, putri Datu Samawamenangis, menyesali keputusan yang diambil ayahnya serta menangisi betapa tersiksa rasanya ditinggal seseorang yang baru ia cintai, Daeng Ujung Pandang. Sambil menangis, putri berlari menyusul sampan Daeng Ujung Pandang hingga tengah laut tanpa menyadari ia mulai tenggelam. Hal ini menyebabkan Tuan Putri Datu Samawa meninggal di tengah laut sambil menangis. Akhirnya, hingga kinitanjung tempat dimana putri dan Daeng Ujung Pandang berpisah tersebut dinamakan Tanjung Menangis untuk mengenang kisah tragis antara kedua insan tersebut.

Rabu, 02 Agustus 2017

LALA BUNTE – Legenda Sang Puteri dan Kutukannya

Untitled-1
Di Kecamatan Maronge terdapat sebuah situs makam tua, tepatnya di Desa Pemasar Dalam yang berjarak kurang lebih 2,5km dari jalan raya lintas Sumbawa -Bima.  Makam tersebut adalah milik Sang Puteri Cantik bernama Lala Bunte yang dikubur hidup-hidup bersama harta benda nya.  Makam ini merupakan salah satu Situs bersejarah yang ada di Wilayah Kabupaten Sumbawa terletak di sebuah bukit kecil yang berjarak kurang lebih 1,5km dari desa Pemasar Dalam, Kecamatan Maronge, Kabupaten Sumbawa.
Di bukit itu juga banyak terdapat makam-makam kuno dari para leluhur termasuk para 7 dayang yang dulunya selalu setia menemani Sang Puteri.
Bukit-Bunte-2
     Sebelum anda mencapai bukit dimana Makam Lala Bunte berada, terdapat sebuah tempat yang merupakan bekas lokasi Kerajaan, dimana dulunya Puteri Lala Bunte bertempat tinggal bersama para kaumnya. Negeri itu bernama “Silang”, lokasi dimana desa tempat Lala Bunte dilahirkan, kini ditumbuhi oleh rimbunan pohon-pohon bambu yang rindang., menurut tokoh masyarakat setempat, setiap keluarga di desa Pemasar Dalam berhak atas setiap rumpun bambu.
Silang
     Kondisi yang memprihatinkan dari situs ini hanya akan menyisakan pemikiran, bahwa makam legenda turun- temurun dan cerita mengenai benda cagar budaya Sumbawa ini terkesan tiada yang istimewa. Jika anda melihat bata bertumpuk di atas Makam, adalah bukan bata dari jaman ini. bentuknya yang lebih lebar dan tebal, menyisakan saksi tentang dikuburnya salah satu dari legenda kecantikan putri salah satu kerajaan Sumbawa yang eksis di lokasi tersebut, adalah benar adanya.
     Hingga akhir hayatnya Lala Bunte adalah seorang putri jelita yang memilih mati dan dikuburkan dengan segenap hartanya, ketimbang menerima lamaran dari pangeran-pangeran dari seluruh pelosok negeri. Sebagian besar dari penduduk masih percaya adanya kutukan dari lokasi makam tersebut. Konon di era ini, beberapa manusia telah mencoba-coba membongkar kuburnya. Namun kejadian aneh kerap terjadi.
     Di Desa Pemasar Dalam, demi mengagungkan Sang Jelita Lala Bunte, para wanita desa rela di kutuk untuk tidak cantik. Karena kencantikan hanya akan membawa petaka dan penderitaan yang pedih, seperti Lala Bunte.